Alko Magazine – Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat pemerataan pendidikan digital. Sebanyak 200 Sekolah Rakyat di berbagai wilayah akan menerima fasilitas internet berkecepatan 100 Mbps mulai Agustus 2025. Program ini sepenuhnya didanai oleh Kementerian Sosial (Kemensos) sebagai bagian dari agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Baca Juga: Lisa BLACKPINK Kolaborasi dengan Sony”
Langkah ini tidak hanya menghadirkan konektivitas tinggi ke ruang kelas, tetapi juga menjadi simbol komitmen negara untuk menjembatani kesenjangan digital. Dengan koneksi cepat, siswa dari wilayah terpencil bisa mengakses materi pembelajaran yang sama dengan siswa di kota besar.
Internet Supercepat Tingkatkan Mutu Belajar di Sekolah Rakyat
Internet 100 Mbps memberi peluang besar bagi Sekolah Rakyat untuk memaksimalkan pembelajaran digital. Kecepatan tinggi ini memungkinkan akses tanpa hambatan ke video edukatif, kelas daring, pelatihan digital, hingga perangkat lunak pendidikan berbasis cloud.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, menjelaskan bahwa jaringan yang digunakan bukan berbasis seluler, melainkan fixed broadband. “Kami hanya memastikan infrastruktur mendekat ke Sekolah Rakyat dan menjaga quality of service-nya,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Kecepatan dan kestabilan jaringan ini akan mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, membuka pintu bagi pelatihan coding, simulasi sains, serta keterlibatan dalam kompetisi global secara daring.
Kemensos Tanggung Seluruh Biaya, Sekolah Tak Perlu Khawatir
Pemerintah memahami bahwa banyak sekolah menghadapi kendala dalam pembiayaan internet. Karena itu, seluruh biaya pengadaan dan operasional internet untuk 200 Sekolah Rakyat ditanggung penuh oleh Kemensos. Sekolah dan siswa tidak dibebani biaya langganan ataupun pemasangan.
Sekretaris Jenderal Kemensos, Robben Rico, mengatakan bahwa Sekolah Rakyat akan menggunakan model pendidikan terpadu seperti SMA Taruna Nusantara, namun untuk jenjang SD hingga SMA. Semua biaya operasional akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Gedung sekolah sementara akan memanfaatkan fasilitas milik Kemenaker dan pemerintah daerah dengan skema pinjam pakai selama satu tahun, sebelum dikembalikan dalam kondisi layak.
Pemerintah Tinjau Langsung Kesiapan Infrastruktur Sekolah
Keseriusan pemerintah ditunjukkan dengan tinjauan langsung ke lapangan. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, telah mengunjungi dua Sekolah Rakyat di Yogyakarta: SR Menengah 19 di Bantul dan SR Menengah Atas 20 di Sleman. Dalam kunjungan itu, ia mengecek kestabilan jaringan dan kesiapan perangkat digital.
Kunjungan ini bertujuan memastikan bahwa konektivitas yang dijanjikan benar-benar tersedia sebelum tahun ajaran baru dimulai. Komdigi dan Kemensos juga terus memantau kesiapan sistem untuk menjamin kualitas pembelajaran daring berjalan optimal.
“Baca Juga: Trump Kritik Partai Elon Musk Sebut Konyol”
Pendidikan Digital Inklusif Jadi Arah Baru Pemerintah
Transformasi digital bukan sekadar memasang internet. Pemerintah ingin membangun ekosistem pendidikan yang kolaboratif, adaptif, dan merata di seluruh Indonesia. Sekolah Rakyat menjadi model awal dari sistem pendidikan yang menggabungkan akses, teknologi, dan kualitas.
“Dengan koneksi 100 Mbps, siswa bisa belajar coding, ikut pelatihan online, dan bahkan bersaing di ajang internasional dari desa mereka sendiri,” ujar salah satu pejabat Komdigi. Ini menunjukkan bahwa internet cepat bukan hanya soal teknologi, tetapi juga keadilan pendidikan. Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan modern dan bermutu bukan hanya milik kota besar. Ketika koneksi cepat hadir di desa, masa depan bangsa pun ikut bergerak maju.




Leave a Reply